Film Tanah Air Beta, Cinta Keluarga Melebihi Segalanya

berangkat ke bioskop menonton film ari sihasale selalu lebih bersemangat. ada “sesuatu”, bayaran yang kita peroleh dengan bergegas ke gedung bioskop. film terbarunya kali ini judulnya tanah air beta. seperti denias senandung di atas awan maupun king, ari sihasale selalu menyuguhkan ironi. indonesia punya kekayaan alam yang tak akan habis di eksplorasi sampai kiamat, namun rakyatnya melarat.

film produksi alenia ini fokus bahasannya bukan di situ. namun film berdurasi 90 menit ini mengangkat masalah pengungsi di atambua. akibat referendum 1999 hubungan keluara mereka terserak. ada yang terpisah dengan ayah, ibu ataupun anak. bahkan tak sedikit yang menjadi sebatang kara. mereka berpisah karena perbedaan pilihan.

para pengungsi itu adalah orang-orang yang begitu mencintai tanah airnya, indonesia. dan mereka harus rela berpisah dengan saudara dan keluarganya yang memilih timor loro sae sebagia tanah air barunya. sayang sekali, indonesia menyambutnya dingin, bahkan menelantarkan. hanya relawan dari pbb yang sesekali membantu mencari informasi tentang keluarganya di timor loro sae.

di tanah pengungsian yang gersang itu mereka berusaha menjadi satu keluarga besar.

seperti yang di alamai keluarga tatiana. ia terpisah dengan anak sulungnya, maru waktu masih bocah. saat ini tatiana tinggal di pengungsian bersama anak keduanya marry. rumah yang ia tinggali yang sangat tidak layak. rumah beratap ilalang dan berpagar bambu. 12 tahun sudah ia berada di pengungsian namun ia belum sempat bertemu.

sayang sekali, melalui relawan (lukman sardi) ia memperoleh kabar mauro yang dirundukan itu tak mau menemuinya. mauro merasa ditinggalkan waktu kecil. keadaan itu memperburuk kondisi fisik tatiana. melihat ibunya meri diam-diam berangkat ke matoain, daerah perbatasan timor loro sae dengan indonesia untuk menemui mauro.

berbekal sebotol air putih, sekerat coklat pemberian cik niren dan uang tabungan yang tak seberapa ia nekat. perjalanan untuk menemui kakak yang tak ia kenali wajahnya inilah bagian terpenting film ini. film yang diangkat berdasar kisah nyata ini seolah ingin mengatakan pentingnya persaudaraan dan cinta keluarga.

karena cintanya pada mama dan kakaknya, apapun dilakukan marry. tak bisa naik bus karena uang tak ada, ia nekad berjalan kaki melewati pegunungan. ia berjalan seharian tanpa makan, dan akhirnya bocah perempuan 10 tahun itu pun pingsan di tengah jalan. film ini cukup menarik dan sangat rekomended, apalagi untuk para remaja, bisa dijadikan film wajib untuk mengisi liburan.