kursi di ruangan studio 2 xxi pejaten village pukul rabu (13/10) pukul 12:45 nyaris penuh. mereka yang akan menonton film terbary julia robert itu cukup antusias. namun selalu saja ada orang-orang yang telat. padahal opening sebuah film sangat menentukan kesan baik buruknya sebuah film.
pada film yang nyaris dua jam ini, pemdangan bali dari atas mendominasi film di awal dan akhir. film ini diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama eat pray love karya elizabeth gilbert. meski berada di puncak karir, perempuan modern ini merasa hidupnya kering. tak ada sesuatu yang ia kagumi lagi. ia merasa perlu keluar dari rutinitas keseharian sebagai orang metropolitan.
mulailah ia melakukan perjalanan. tujuan pertamanya adalah italia. di tempat ini ia memuaskan hasratnya dengan menikmati spageti, pizza dan eskrim. ia merasa menemukan dirinya seperti 15 tahun lalu yang bersemangat. ia tak mempedulikan berat badannya yang terus bertambah.
dari teman akrabnya ia menuju india. di negeri terbesar di asia ini liz (yang diperankan oleh julia robert) bergabung dengan perkumpulan meditasi. di sini ia telah mulai menemukan keseimbangan. dan disini juga ia mulai belajar memaafkan dirinya sendiri.
film ini cukup datar. konflik yang dihadirkan juga tak begitu jelas. apa yang dialami liz adalah problem biasa warga metropolitan yang selalu bergelut dengan pekerjaan dan uang. andai kondisi semua seperti liz yang bebas financial, mereka akan melakukan hal yang sama. keluar dari rutinitas dan melakukan perjalanan memuaskan kesenangan.
dan kota terakhir yang dikunjungi adalah bali. di sini ia berguru kepada ketut lyer, dukun ompong yang bijak. petuah-petuahnya inspiratif. dari kakek inilah liz menemukan dirinya. dukun ketut mengajarkan bagaimana ia harus tersenyum. bukan saja senyum di bibir, tapi juga tersenyum wajahnya, juga hatinya.
nasehat dari ketut lyer yang paling aku ingat adalah jadikan setiap peristiwa itu petunjuk. dan jadikan setiap orang yang kau temui sebagai guru. cukup klise namun tetap relevan untuk menjadi orang yang bijak. dan di bali pun ia menemukan cintanya, david orang brazil yang tinggal dibali.
lengkap sudah perjalanan “spiritual” liz. perempuan itu kembali ke newyork. entah apakah kejenuhannya akan kambuh lagi? dan liz akan menulis buku lagi ?

