memutuskan menonton film ini, aku pergi tanpa harapan apa-apa. karena aku tak ingin kecewa. dan benar saja film ini memang seperti film-film indonesia kebanyakan. cuma begitu saja, ya begitu saja. tak ada yang penting untuk dikomentari.
kecuali pertanyaan untuk lembaga sensor film. kenapa guntingnya kali ini cukup tumpul? adegan pada scene pembuka dimana tiara (tamara bleszynski )bangun tidur memakai bra dan celana dalam minimalis ngolet di shoot close up lolos sensor. padahal, dari cerita yang pernah aku dengar, sebuah film yang memakai gambar pisang dalam posternya disuruh mengganti. baru ketika gambar pisangnya dikupas setengahnya, film itu bisa tayang di bioskop.
unik. dan hanya terjadi di indonesia. sayang waktu itu saya tak sempat menontonnya. apriori duluan lah.
namun petang itu XXI pejaten village theater 4 pukul 18:15 nyaris seluruh kursi terisi. aku duga, mayoritas penonton film ini diam-diam hanya ingin memelototi “keperkasaan” tubuh coklat tamara nyaris telanjang saat berjemur di atas kapal, maupun bercengkerama di pantai. bukan pada keelokan cerita maupun akting para aktornya.
dan tak salah ketika produser mengabaikan kualitas keduanya. karena dengan membuat film-film yang ala kadarnya pun mereka sudah meraup untung besar. buat apa membuat film bagus namun kemudian bangkrut tak bisa produksi lagi, “kata aktor yang kini sudah meninggal. aku membayangkan produsernya punya argumen seperti ini, film hanyalah komoditas, yang penting laku.
untuk mengantisipasi ketaklakuan filmnya di pasaran, produser dengan jeli menggandeng beberapa produk. aku yakin untuk membuat film seperti air terjun pengantin produsernya tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. tak apa kalau kemudian sebuah film bermetamorfose menjadi iklan terselubung. celakanya penempatan iklannya asal tempel. misalnya muncul sebagai stiker di belakang mobil yang durasinya lebih dari 30 detik.
itulah kenapa mayoritas film indonesia hanay begitu-begitu saja?
tampaknya kesuksesan film bergenre seperti ini akan merebak lagi. ini mengingatkan kesuksesan film-film tahun 90an yang melesatkan nama-nama ineke koesherawati, taffana dewi dan lainnya. masih ingat kan film-film setetes noda manis, gairah malam, bergairah di puncak, bisikan nafsu atau hukuman zina?
oh ya tujuanku sebenarnya adalah ke toko buku untuk membeli istana khayalan (chitra banerjee divakaruni ) dan snow country nya yasunari kawabata.
sa suka….
12:41 pm
yaa…begitulah di Indonesia, sepertinya setiap institusi selalu punya aturan yang tidak tertulis, aturan yang kemudian jadi sangat subjektif, seolah-olah aturan yang sudah disepakati jadi nafi.
Edan semua lah… menyebalkan.