GEBUKAN drum ritmis dalam tempo yang cepat. Menyusul melodi dan gitar yang meraung tinggi, juga cabikan bas yang dinamis. Di tengah itulah menyelinap masuk sebuah lagu. Suara vokal dalam jerit panjang, lengking yang menyakitkan telinga, namun lantang mengekspresikan sesuatu yang demikian lepas. Perpindahan nada berlangsung cepat tanpa mengubah tempo musik. Energi musikal di situ seakan-akan membayangkan kemarahan dan pemberontakan yang dieksplorasi habis-habisan. Juga dalam â€performance†dan perangai pentas mereka.
Di bawah panggung, di antara musik yang berdentam-dentam dan jerit panjang sang vokalis, sejumlah penonton tak hanya menggerak-gerakkan kepala mereka. Tapi juga melakukan pogo, sebuah gaya komunitas underground dalam merespons musik. Mereka terkesan bergerak liar dan seenaknya, saling bertubrukan, saling menerjang. Bahkan ada beberapa di antaranya terjatuh dan hampir terinjak-injak. Tapi mereka hanya saling tertawa.
Di pentas, musik dan suara vokalis terus bergemuruh. Bertelanjang dada, dengan tubuh dihiasi tato, suara Egan Beton sesekali seperti parau. Namun terus meninggi dalam tempo monoton yang ditingkahi permainan gitar Ukent yang dinamis. Demikian juga dengan penampilan Shamoed (bas) yang atraktif. Sedangkan tabuhan drum Obeth tak hanya energik, tapi juga sesekali menunjukkan kegarangannya. Pukulan dan ketukannya terukur meski dalam lompatan-lompatan nada yang cepat.
Beberapa lagu mereka bawakan, yang umumnya bertutur dan meneriakkan realitas yang chaos, seperti nomor “Jerit Kematian” dan “Aborsi”. Itulah penampilan kelompok Victim of Rage (V.O.R). Penampilan group musik underground asal Bandung yang beraliran Brutal Death ini adalah satu dari sejumlah penampilan grup musik underground lainnya dalam acara bertajuk Stay In Underground di Bukit Kafe, Cimahi, Minggu (23/1) kemarin.
Demikian juga kelompok Discount, yang hadir dengan warna musik punk. Begitu naik ke pentas, kontan mereka langsung menggebrak dengan nomor-nomor yang menghentak, yang langsung direspons penonton dengan pogo. Grup musik yang terdiri dari Apep (vokal), Cevo (drum), Pict (gitar) dan Opik (bas) ini, memainkan sejumlah nomor lagu yang meneriakkan realitas dan semangat pemberontakan, seperti “Anjing Perang”, “Politikus”, atau “Terpenjara Diri”.
Ketika salah seorang personel Discount melemparkan ratusan stiker ke arah penonton, sementara musik terus berdentam-dentam, suasana makin panas. Penonton yang rata-rata adalah anak-anak remaja belasan tahun dengan dandanan yang khas itu, langsung turun ikut berebut. Dan pogo terus dilanjutkan. Mereka bergerak, saling menabrakkan diri, saling terjang, dan terus bergerak!
Seperti penampilan kelompok musik yang lain, tak jelas benar syair yang diucapkan oleh Avev sebagai vokalis, kecuali hanya terdengar sebagai raungan dan jeritan. Bahasa dan kata-kata di situ seakan-akan tidak lagi menjadi penting untuk dikomunikasikan. Bahkan terkesan itulah yang mereka lawan. Karena itulah, jeritan, raungan, adalah satu-satunya cara untuk mengomunikasikan pemberontakan mereka.
Dan di situ juga bukan pada tempatnya orang bicara tentang kaidah-kaidah estetika yang konvensional. Sebab, musik-musik underground hadir dengan kaidah estetika musikalitasnya sendiri. Dan juga jangan ditanyakan skill dan permainan musik mereka. Paling tidak, seperti yang ditunjukan grup-grup yang tampil hari itu, seperti Discount, Victim of Rage, atau juga Crawl of The Dark, bisa dikatakan bahwa performance dan skill mereka di atas rata-rata. Setidaknya ketiga grup ini memiliki harapan yang lebih jauh dalam mengeksplorasi kemampuan mereka.
ACARA yang diselenggarakan oleh Azka Production ini menggunakan skate-park, ruangan yang biasa dipakai sebagai arena permainan skate-board, dengan kekuatan sound-sytem 5.000 watt. Sejak di halaman Bukit Kafe, tampak para grounder berkumpul dan bergerombol dengan berbagai dandanan dan penampilan mereka yang khas.Jaket kulit yang penuh dengan atribut paku dan logam, sepatu hak tinggi, gaya dan warna rambut yang ganjil, juga kaos-kaos oblong yang penuh gambar-gambar serta simbol khas komunitas underground. Hal sama juga tampak pada penampilan gadis-gadisnya.
Dalam ruang pertunjukan, mereka duduk di atas trap-trap skate-board. Penonton umumnya adalah para pemain musik itu sendiri. Sambil menunggu giliran main, grup-grup musik itu dengan setia menyaksikan penampilan rekan-rekan mereka. Bahkan tak jarang mereka mendadak melompat turun bergabung melakukan pogo.
Tak hanya penampilan dan dandanan, penamaan grup-grup musik itu pun menjelaskan perbedaan yang mereka pilih dalam konteks jenis musik. Sebutlah, nama seperti The Iblish, Over Dosis, Life After Death, atau Crawl of The Dark. Nama-nama yang menerbitkan bayangan dan image tertentu tentang musik dan komunitas underground.
Image dan anggapan masyarakat terhadap musik-musik undergound inilah yang ingin diubah oleh Azka Production dengan penyelenggaraan acara tersebut. “Anda lihat kan, tak ada keributan apa pun. Dandanan mereka memang begitu, juga jenis musiknya. Tapi apa lantas karena dandanannya itu mereka langsung dicap biang keributan. Kalau bicara keributan jenis musik lain pun tak kalah bikin ributnya kan? Semuanya pulang pada individu masing-masing,” ujar Upay, selaku Ketua Penyelenggara.
Memang tak mudah mengubah image dan anggapan masyarakat pada musik underground. Seperti dituturkan Upay, ia merasakan sendiri bagaimana sulitnya mencari gedung untuk acara tersebut. Belum lagi sponsor yang enggan bekerjasama. Anggapan pada musik underground yang negatif dan brutal, itulah pangkalnya.
Anggapan yang akhirnya tak pernah memberi tempat pada ruang-ruang kreatif mereka yang hendak meneriakkan kenyataan tanpa basa-basi. Dan musik serta komunitas underground akan tetap hadir dalam dunianya sendiri. Dunia yang lebih jujur meneriakkan perlawanan pada setiap dominasi.
(sumber: http://www.pikiran-rakyat.com; Ahda Imran)


kirimin acara2 donk ke alamat email gw please yaa gw butuh banget..thx bro n sis keep rockin
indonesia brutal sick ness