“Kelompok musisi independen Indonesia ribuan jumlahnya. Membentuk komunitas dengan jenis musik berbeda. Di Bandung, sepekan bisa lahir 3 album indie, diduga omzetnya milyaran perak perbulan. Banyak menyebut dirinya underground.”
Dari Industrial Sampai Ska
Kata underground naik daun lagi, dan jadi bahasa bersayap bagi kalangan musisi independen. Di Bandung basis kelompok musisi indie, kata underground diterjemahkan sebagai ‘bawah tanah’, dengan arti khusus ‘kebebasan buat bergerilya’.
“Kami menyebut underground sebagai spirit bermusiknya. Di Bandung underground nggak ada godfather-nya. Jadi, semua bersaing. Semua memiliki kubu dan massa masing-masing. Beda dengan di Jakarta, dulu ada satu grup yang menjadi pimpinan underground. Di Sukabumi juga begitu, “ kata Jodyan, penyiar Radio MGT FM Bandung, yang sedang berjuang mengudarakan program ‘Band Indie’ saban Minggu siang di radionya. Anak muda ini pernah mengalami suasana nggak enak sehubungan dengan pengudaraan mata acaranya, “ Karena kata underground diartikan salah kaprah. Bagi sebagian musisi, kata underground diartikan sebagai band-band pembawa lagu-lagu keras, tapi buat saya dan banyak musisi lainnya,underground bisa diisi segala macam jenis musik, selama mereka belum masuk pada major label, “ tambah Jodyan.
Pendapat ini disetujui oleh Beng-Beng, gitaris Pas Band, kelompok indie Bandung yang terawal menembus major label di bawah bendera Aquarius Musikindo. “Pas awalnya memang mainin musik rock, terinspirasi oleh Nirvana, yang awalnya juga band indie. Tapi, sejalan dengan pendewasaan bermain musisinya dan moodnya pada saat mencipta lagu, boleh saja suatu saat lagu karya kami agak kalem sedikit. Lagu Bocah pada album baru kami Psycho I.D nggak ada kaitannya dengan perubahan sikap bermusik Pas. Bocah lahir di tengah kondisi pemain Pas sedang riang-gembira Yuki baru punya anak pertama – sedang isi lagu kami di album mini perdana Four Through The Sap – memang harus keras begitu, karena pada saat itu kami sedang berjuang dan suka main lagu yang lebih cadas, “ ujar Beng-Beng. “Jadi underground memang boleh jenis musik apa saja, karena tergantung spirit bermainnya. Spirit untuk bisa independen, bebas menentukan jenis musik dan mencipta lagu, tidak didikte siapapun, “ lanjut pendiri Band Air dengan lagu hit ‘Bintang’ ini.
Namun, bagi Risris Rap pemilik kios ‘Gudang Bawah Tanah’ di Plaza Palaguna, Bandung, underground lebih dekat dengan jenis musik metal. Jenis musik ini memang jauh dari incaran perusahaan rekaman besar yang ‘resmi’, yang biasa disebut major label. Bahkan teman-teman Risris yang diwawancarai NewsMusik di depan kiosnya di Palaguna berpendapat agak ekstrem, “Kalau band indie masuk major label, pasti konsep bermusiknya jadi beda, karena harus disesuaikan dengan pasar, dan tak dapat beridealis ria lagi.“.Pendapat yang sama diberikan oleh grup brutal death Jakarta, Bloody Gore.
Pendapat inilah yang ditolak oleh Beng-Beng, Jun Fan Gung Foo dan Noin Bullet dari Bandung. Noin Bullet yang memainkan musik ska-core, awalnya memang indie label, namun kini masuk lingkaran major label Warner Music Indonesia. “ Tapi musik kami tak berubah. Semua lagu yang kami jual dengan indie label, langsung diedarkan lagi oleh Warner, dengan label Warner Music Indonesia. Tanpa berubah, tanpa didikte siapapun, “ kata Chairul, gitaris Noin Bullet. Bersama Beng-Beng, ia curiga, jangan-jangan anak-anak indie banyak iri, karena Pas, Noin Bullet dan beberapa band indie lainnya bisa masuk major label, sementara mereka ‘belum’.
“Banyak band-band indie yang sejak awal saja sudah alergi sama major label, dan tak mau menawarkan lagu-lagu karyanya ke sana. Padahal banyak contoh menarik tentang band-band indie yang masuk major label, seperti Netral, Pas, Jun Fan Gung Foo dan Sucker Head. Lagu Walah yang ngetop dari album perdana Netral, awalnya mengudara mewakili band indie di acara Indielapan-nya Radio Prambors, “ ujar Dodo Abdullah mantan produser acara Indielapan – Prambors – kini menjadi produser band-band warna baru dengan label ‘Independen Records’ dan ‘Pops’ di bawah Aquarius.
Akhirnya, dalam keluarga underground alias independen itu, ada jenis musik yang beragam : industrial-techno, hardcore, brutal death metal, punk, hard-rock, ska, alternative bahkan pop sejenis musiknya Sheila on 7 dari Yogya.
(sumber: http:// www.newsmusik.net)


boleh ga’ tulisan ini sy masukin di majalah indie gua ( makassar)
sky08
yupz…idem ma ccomment di atas
artikelnya wa masukin di majalah indie bengkulu….
boleh yupz??
to asky & jigx :
silahkan bos..^_^v
Alo-alo….
Mau tanya “Unseendarkness” yang dulu Basisnya si Mu’in masih exis gak ya..>??
Trus si Nur Mu’In tru sekarang dimannna seh….
Bao kamaran euy….
Maksudna ABO…. kamarana euy…
sok edankeun kwalitas band indie bandung meh leuwih vol.
Okay setuju,,tapi kalo boleh minta info dong buat indie major label bandung yang nanganin wadah aspirasi band yang alirannya lebih ke alternatif rock gt…
gw punya lagu yang oke lch,,,
tp ada prmasalahnnya gua gx punya modal bwt ngetrek..yaa maklum lch masih nax skull,,tp gw yakin bgt ma lagu gw..lw bizza plezzz gw pgn demo langsung di studionya boleh gx….
ngapain jdi idie melulu
titip distribusi aja ama label aku
harus berangkat kemn kalau ingin mendaftar band saya di bandung